MTs Minhajut Tholabah

Jl. Al-Ikhlas RT02 RW 10 Kembangan Bukateja Purbalingga

Pilihan Cerdas Generasi Berkualitas

SAHABAT SEJATI

Sabtu, 11 Agustus 2018 | Oleh Administrator | Dilihat 901 Kali

Karya: Suci Rahmawati

Aku punya teman bernama Puspa, Syifa, dan Nurul. Kami berteman sejak kecil. Nurul adalah anak yang lucu dan periang. Setiap hari dia selalu membuat kami tertawa, dia selalu membuat cerita lucu sampai kami tertawa terbahak-bahak. Suatu hari aku, Puspa, dan Syifa sedang menunggu Nurul di kelas karena sudah jam 06.35 WIB dia belum berangkat ke sekolah. “Mengapa Nurul belum berangkat?” tanyaku kepada Puspa dan  Syifa. “Iya tumben banget Nurul belum berangkat biasanya paling awal,” jawab Puspa.Jam 06.45 WIB Nurul datang dengan raut muka yang sedih, kami bertanya kepadanya tetapi dia hanya diam saja. Disepanjang pelajaran Nurul hanya terdiam. Kami heran mengapa Nurul menjadi pendiam seperti ini. Teeet....teet....teet.................... bel berbunyi waktunya istirahat. Aku , Puspa, dan Syifa mengajak Nurul ke kantin.“Nurul ayo kita ke kantin!” ajak Syifa dengan suara nyaringnya.“Tidak kalian saja,”jawab Nurul dengan sedikit senyuman.“Baiklah kami pergi dulu,” jawab Puspa.Kami keluar kelas meninggalkan Nurul“Kalian berdua pergi ke kantin terlebih dahulu, aku akan menemani Nurul di kelas,” Kataku kepada Puspa dan Syifa.“Mengapa hanya kau yang menemani Nurul?” bisik Puspa kepadaku.“Aku akan bicara berdua saja, kalau ramai–ramai nanti Nurul tidak ingin bicara karena malu,” kataku smbil berbisik krpada Puspa.Akhirnya  Syifa dan Puspa pergi ke kantin.“Hai Nurul,” sapaku kepada Nurul, tetapi Nurul diam saja“Nurul kau kenapa mengapa bengong saja?” tanyaku sambil menepuk bahunya.“Aku tidak apa-apa.”“Oh begitu, baiklah kau ingin rahasia-rahasiaan sama teman mu ini.”“Tidak  bukan begitu.”“Lalu apa? Mengapa? Hari ini kau menjadi pendiam apa kau sedang marah kepadaku?” nadaku semakin tinggi.“Tidak. Sebenarnyaaaaaaa ibuku sedang sakit dan harus berobat, tapi keluargaku tidak punya uang untuk membawa ibu berobat,” Jawab Nurul menahan isak di dadanya.Aku terdiam sejenak“Kau jangan bersedih, senyum donk masa  seorang Nurul bersedih,” aku mencoba menghibur Nurul. Teet...teet...teeet...........bel berbunyi waktunya masuk. Percakapan kami pun putus sampai disitu. Kami duduk dibangu masing-masing, kemudian puspa dan Syifa mendekatiku.“Rahma bagaimana? Ada apa dengan Nurul?” tanya puspa dengan wajah kepo “Nanti aku ceritakan, nanti sore kumpul dirumah ku ya...,” jawabku.“Baik bos” jawab Puspa dan Syifa serentak. Sore harinya tepatnya di rumahku kami bekumpul. Aku menceritakan semuanya kepada Puspa dan Syifa.“Oh begitu kasihan Nurul,” jawab Puspa.“Maka dariitu kita harus membantu Nurul,” jawabku dengan senyum merekah.“Bagaimana?,” tanya Syifa.“Kita gunakan kelebihan atau keahlian masing-masing,” jawabku.“Maksudnya?” tanya Puspa.“Begini aku punya keahlian berpidato, lagi pula besok kan aku akan berlomba, siapa tau menang, sedangkan kau Puspa kau kan pandai membuat cerpen jadi, kau daftar saja ke Pak guru, dan kau Syifa, kau kan pandai membuat kerajinan tangan, jual saja di sekolah. Jadi nanti uang yang kita peroleh bisa untuk membantu berobat ibunya Nurul, bagaimana?”Puspa dan Syifa terdiam sejenak”Aku setuju!” teriak Puspa.“Bagaimana denganmua Syifa?” tanyaku kepada Syifa.“Baiklah aku setuju degan idemu,” jawab Syifa. Ke esokan harinya, kami berangkat kesekolah bersama-sama seperti biasanya. “Hai teman-teman, doakan aku ya agar aku menang,” kataku kepada Puspa, Syifa, dan Nurul“Kami akan mendoakanmu” Jawab Syifa.“Semanga,t” serentak teman-teman mengucapkannya. Kemudian aku berangkat menuju tempat perlombaan bersama pak giri. Setelah berjam-jam di sana hasil akhirpun diumumkan ternyata aku juara satu. “alhamdulillah” kataku dalam hati. Sedangkan di sekolah Syifa yang menjual kerajinan tangannya habis terjual. Sementara Puspa sedang menunggu hasil karyanya dan pak guru mengumumkan bahwa puspa menjadi juara 1. Setelah pulang sekolah, aku, Puspa, dan Syifa bertemu di rumah Puspa dan mengumpulkan hasil uang yang diperoleh. Ternyata hasilnya Rp. 800.000,-. Hasilnya lumayan untuk membantu berobat ibunya Nurul.Keesokan harinya, setelah pulang sekolah, kami datang ke rumah Nurul untuk memberikan uang yang kita peroleh untuk membantu ibunya Nurul. Nurul sangat bahagia.“Terima kasih teman-teman” kata Nurul sambil memeluk kami.Akhirnya setelah kejadian itu Nurul menjadi anak yang periang dan lucu seperti dulu lagi.

 

KOMENTARI TULISAN INI

...

Taufik, S.Pd.I

"Dunia Pendidikan adalah salah satu faktor utama penunjang utama pembibitan dan kesuksesan Generasi Muda Bangsa kita"

Selengkapnya

STATISTIK

JAJAK PENDAPAT

Apakah Website ini membantu anda untuk mendapatkan informasi kami ??

LIHAT HASIL